03 Februari 2026
Bagi lulusan baru, dunia pasca kampus mungkin terasa lebih berat dari ujian semasa kuliah, dengan berbagai kekhawatiran untuk memulai perjalanan baru. Melanjutkan sesi rangkaian pembekalan Enrichment, pak Agus Muslih selaku praktisi HR di PT Perfetti van Melle, mengajak peserta untuk tidak terburu-buru mencari jawaban ke luar, melainkan memulainya dari satu hal yang paling mendasar: mengenal diri sendiri.
Beliau menekankan bahwa karier bukan sekadar tentang pekerjaan pertama, perusahaan besar, atau gaji yang terlihat menjanjikan. Karier adalah perjalanan panjang yang akan ditempuh bertahun-tahun, dan karena itu perlu dibangun di atas pemahaman yang jujur tentang nilai, minat, dan kekuatan pribadi. Ia mengingatkan bahwa banyak orang merasa lelah, tertekan, bahkan ingin pindah pekerjaan bukan karena tidak mampu, tetapi karena sejak awal memilih jalur yang tidak selaras dengan dirinya.
Melalui berbagai pengalamannya, pak Agus memberikan satu hal penting: kegagalan dalam proses rekrutmen sering kali bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak mampu menjelaskan nilai diri dengan baik. Banyak kandidat sebenarnya punya potensi, tetapi tidak tahu bagaimana menceritakan siapa dirinya, apa yang ia kuasai, dan kontribusi apa yang bisa ia berikan. Di sinilah personal branding menjadi penting—bukan sebagai pencitraan, melainkan sebagai cara menyampaikan identitas dan arah karier secara jujur dan konsisten.
Selanjutnya, pak Agus mengajak peserta untuk reflektif dalam memandang personal branding sebagai cerminan diri yang utuh. Maksudnya adalah, apa yang tertulis di CV, apa yang ditampilkan di media sosial, dan bagaimana seseorang berbicara saat wawancara seharusnya saling selaras. Ketika seseorang sudah mengenal dirinya, proses menjelaskan diri kepada orang lain akan terasa lebih ringan dan meyakinkan. Ia menekankan bahwa keaslian jauh lebih bernilai daripada sekadar terlihat “ideal” di mata perekrut.
Dalam sesi ini, peserta juga diajak membuka wawasan tentang beragam jalur karier yang bisa ditempuh oleh lulusan baru. Bekerja di instansi pemerintah, perusahaan besar, startup, organisasi nirlaba, hingga membangun usaha sendiri—semuanya adalah pilihan yang sah. Namun, beliau mengingatkan bahwa tidak ada satu jalur yang cocok untuk semua orang. Setiap pilihan perlu dipertimbangkan dengan melihat budaya kerja, nilai organisasi, dan kesiapan pribadi.
Beliau juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan kepercayaan diri dalam proses wawancara kerja. Wawancara bukan sekadar menjawab pertanyaan, tetapi kesempatan untuk bercerita—tentang proses belajar, kegagalan, dan cara seseorang menyikapi tantangan. Ia mengingatkan peserta untuk tidak takut pada penolakan, karena setiap proses adalah ruang belajar yang akan memperkaya pengalaman dan kedewasaan karier.
Sebagai penutup, pak Agus memberikan tugas reflektif kepada peserta: menyusun lembar kerja persiapan karier yang berisi pemetaan diri, opsi jalur karier, serta pernyataan personal branding untuk latihan kejujuran pada diri sendiri. Sebab, menurutnya, karier yang kuat tidak dibangun dari keputusan yang tergesa-gesa, tetapi dari kesadaran diri yang tumbuh perlahan dan konsisten.
Karunia Farah Adini