Studium Generale Pembekalan Pra-Wisuda Tahap VI 2025/2026

06 Februari 2026

From Employee to Impact Player : Building Career Value

Karunia Farah Adini

Pada Jum’at, 6 Februari 2026, telah terselenggara kegiatan Studium Generale Pembekalan Pra-Wisuda Tahap IV, untuk membekali para lulusan baru yang akan diwisuda mempersiapkan karir mereka di dunia pasca kampus. Kegiatan dibuka oleh drh. Sukma Kamajaya, M.M, Direktur Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni IPB University. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kelulusan bukanlah garis akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupan yang menuntut kesiapan lebih. Dunia kerja, menurutnya, membutuhkan lulusan yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, ketangguhan, dan kemauan untuk terus bertumbuh. Ia juga mengajak para lulusan IPB untuk melihat diri mereka sebagai individu yang memiliki peran strategis dalam memberi kontribusi nyata bagi organisasi, masyarakat, dan bangsa.

Sambutan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemaparan singkat dari Rici Tri Harpin Pranata, S.KPm., M.Si, perwakilan tim CDA IPB, yang memperkenalkan peran CDA sebagai mitra perjalanan karier mahasiswa dan alumni. CDA IPB hadir untuk mendampingi sejak tahap mengenali potensi diri hingga menyiapkan langkah konkret memasuki dunia kerja. Melalui berbagai layanan gratis—mulai dari asesmen dan pemetaan karier, konsultasi karier, pelatihan persiapan kerja, program mentoring, hingga fasilitasi magang dan rekrutmen—CDA IPB berupaya memastikan setiap lulusan tidak berjalan sendirian dalam merancang masa depannya. Program kewirausahaan, bootcamp, sekolah startup, hingga tracer study alumni juga menjadi bagian dari komitmen CDA IPB dalam meningkatkan daya saing lulusan dan kualitas pendidikan IPB secara berkelanjutan.

Sesi utama kemudian diisi oleh pak Yulistian Firmansyah, Performance Development Manager di PT Nestlé Indonesia. Dalam materinya yang bertajuk From Employee to Impact Player : Building Career Value. Pak Yulistian mengajak peserta untuk merefleksikan peran yang ingin diambil dalam karier. Beliau menggambarkan perbedaan antara karyawan yang sekadar menunggu instruksi dengan mereka yang berani mengambil inisiatif, membangun kolaborasi, dan menciptakan nilai bagi lingkungannya. Menjadi impact player, menurutnya, bukan tentang jabatan tinggi, melainkan tentang sikap dan pilihan yang diambil setiap hari.

Melalui perjalanan kariernya, pak Yulistian menekankan pentingnya rasa syukur, cara berpikir logis, serta kemampuan beradaptasi dalam menghadapi dinamika dunia kerja. Beliau membagikan pengalamannya yang dituntut untuk selalu adaptif dengan berbagai keadaan seperti berpindah peran, menghadapi tantangan, hingga belajar dari situasi yang tidak selalu ideal—termasuk berhadapan dengan atasan yang sulit dan ekspektasi keluarga terhadap pilihan karier. Dari pengalaman tersebut, ia menegaskan bahwa pertumbuhan profesional lahir dari kemauan untuk belajar, keberanian menerima umpan balik, serta kesediaan untuk terus mengasah kompetensi yang relevan.

Tak hanya berbicara tentang keterampilan teknis, pak Yulistian juga menyoroti pentingnya emotional intelligence—kemampuan mengelola emosi, membangun empati, berkomunikasi dengan baik, dan menjaga sikap profesional. Baginya, lulusan IPB telah dibekali kemampuan berpikir analitis yang kuat, namun nilai tersebut akan semakin bermakna ketika diiringi dengan sikap proaktif, akuntabilitas, dan kepemimpinan diri yang baik.