Sharing Session Women In Career

-


Semangat Kartini mungkin lahir dari tulisan, tetapi hari ini semangat itu hidup dalam langkah perempuan Indonesia yang berkarya di berbagai bidang. Melalui Sharing Session: Women in Career, yang dilaksanakan pada Selasa (21/04), peserta diajak melihat lebih dekat bagaimana semangat tersebut diterjemahkan dalam realita karier masa kini yang penuh tantangan sekaligus peluang.

Kegiatan ini menghadirkan tiga sosok inspiratif di bidangnya masing-masing, yaitu Puji Mudiana, Direktur Pengembangan Karier, Kewirausahaan, dan Hubungan Alumni IPB University, Suci Nur Aini Zaida, Senior Spatial Planning Expert di Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Provinsi DKI Jakarta, serta Anindita Sita Dewi, seorang ekonom. Selama kegiatan berlangsung, kegiatan tidak hanya meliputi tentang berbagi cerita, tetapi juga membuka ruang diskusi yang jujur dan reflektif mengenai bagaimana posisi perempuan di dunia kerja.

Diskusi dimulai dari gambaran besar yang disampaikan oleh Bu Puji, yang mengajak para peserta melihat realita di lapangan secara lebih objektif. Di satu sisi, perempuan kerap unggul dalam berbagai soft skills, seperti komunikasi, etika kerja, dan kolaborasi. Namun di sisi lain, masih ditemukan tantangan seperti kesenjangan gaji, keraguan dalam negosiasi, hingga kebutuhan peningkatan kepercayaan diri, khususnya dalam kemampuan bahasa asing dan penguasaan hard skill teknis. Dari perspektif ini, peserta diajak untuk tidak hanya memahami tantangan, tetapi juga mulai mempersiapkan diri sejak dini untuk dapat membangun kompetensi yang relevan dan berani menyuarakan nilai diri.

Percakapan kemudian beralih ke dinamika karir di sektor publik bersama Bu Suci. Ia membagikan pengalaman berkarir di lingkungan pemerintahan yang sering kali disalahpahami sebagai “zona nyaman”. Padahal, di balik struktur birokrasi yang terlihat stabil, terdapat tuntutan adaptasi, inovasi, dan tanggung jawab yang tidak kalah besar. Bu Suci juga menyoroti bagaimana perempuan dapat tetap bersuara dan mengambil peran kepemimpinan secara elegan, menyampaikan ide, mengambil inisiatif, dan membangun pengaruh tanpa harus kehilangan jati diri. 

Sementara itu, dari dunia korporasi dan ekonomi, Mbak Anindita membawa perspektif tentang bekerja di lingkungan yang kompetitif dan bertekanan tinggi. Ia secara terbuka membahas pengalaman menghadapi imposter syndrome, yaitu perasaan ragu terhadap kemampuan diri yang ternyata justru tidak asing bahkan bagi profesional berpengalaman. Melalui ceritanya, peserta diajak memahami bahwa rasa ragu adalah bagian dari proses, dan yang terpenting adalah bagaimana tetap melangkah, belajar, dan membangun kepercayaan diri seiring waktu. Dengan memahami rasa ragu dan memulai keberanian untuk melangkah maju diharapkan dapat membangkitkan semangat perempuan untuk mencapai hal-hal yang diinginkan.

Tak kalah menarik, diskusi juga menyentuh isu yang sering menjadi kekhawatiran banyak perempuan, yaitu keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi. Alih-alih melihatnya sebagai pilihan yang harus dikorbankan salah satunya, para narasumber sepakat bahwa work-life balance adalah sesuatu yang terus diupayakan dan bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, melainkan dibangun melalui kesadaran, prioritas, dan dukungan lingkungan. Penting untuk tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan mendapatkan kesetaraan khususnya dalam aspek keseimbangan work-life balance.

Sepanjang sesi, suasana terasa hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak hanya menggali pengalaman, tetapi juga menantang perspektif. Dari isu kesenjangan gaji, stereotip pekerjaan “aman”, hingga mitos tentang batasan perempuan dalam mencapai posisi strategis, yang mana semuanya dibahas secara terbuka dan relevan dengan kondisi saat ini.

 Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan inspirasi, tetapi juga refleksi. Bahwa perjalanan karier perempuan bukan tentang membuktikan diri lebih dari yang lain, melainkan tentang mengenali potensi, berani mengambil peluang, dan tetap bertumbuh di tengah berbagai tantangan. Semangat Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol, tetapi hadir dalam setiap langkah perempuan yang memilih untuk maju dan memberi dampak.